Profil Guru Tua


Profil Guru Tua

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN

SAYYID IDRUS BIN SALIM ALJUFRIE (SIS ALJUFRI )


a. Nama : 

Sayyid Idrus bin Salim bin Alwy bin Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwy bin Abdullah Attarisy bin Alwy Alkhawwash bin Abubakar Aljufri1 bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Alfaqih Almuqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala Qasam bin Alwy Shahib Bait Jubair bin Muhammad Maula Shauma‟ah bin Alwy Almubtakir bin Abdullah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Annaqiib bin Muhammad Jamaluddin bin Ali Al‟uraidhy bin Ja‟far Ashaadiq bin Muhammad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Ashibthi bin Ali Almurthadha bin Abi Thalib (X) Fathimah binti Muhammad Rasullah SAW.


b. Tempat dan Tanggal Lahir : 

Taris (Hadramaut Yaman Selatan), Senin, 14 Sya’ban 1309 H atau 14 Maret 1892 M.


c. Pendidikan : 

1. Formal: Pesantren/Madrasah Rubat Tarim

2. Informal: Guru-gurunya (Al-Allamah Habib Salim) dan (Muhammad Bakasir)         


d. Tempat dan Tanggal Wafat : 

Palu-Sulawesi  Tengah.  Senin, 12 Syawal  1389  H  atau  Senin,  22 Desember 1969 M.7


e. Riwayat Perjuangan

Menilik catatan sejarah perjuangan Sayyid Idrus bin Salim aljufri “SIS

ALJUFRI ” begitulah sebutan masyarakat Palu-Sulawesi Tengah yang menunjukkan panggilan ta‟adzhim lagi akrab kepada beliau, merupakan Ulama al„Alimu „al-„Alamah al-Bahru al-Fahhamah (Ulama yang memiliki lautan pengetahuan atau samudra pemahaman). Berdasarkan silsilah, Sayid Idrus bin Salim Aljufrie merupakan pertautan antara sosok ulama dan pemimpin besar (Arab-Bugis). Sehingga tidaklah berlebihan jika beliau dikategorikan sebagai ulama yang memiliki sosok dan kepribadian yang berbeda dengan ulama lainnya. Beliau dilahirkan sebagai anak kedua dari pasangan Habib Salim bin Alwi bin Saggaf Aljufri (seorang mufti di Hadhramaut) dengan Syarifah Nur binti Muhammad Aljufri (seorang puteri keturunan salah seorang Raja di Sulawesi Selatan yang bergelar Arung Matoa Wajo). Bila dilihat dari garis keturunan (nasab) ibu Sayyid Idrus bin Salim Aljufri mengalir darah nusantara Indonesia. Awal perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) dimulai ketika kedatangan beliau ke Indonesia dengan maksud mengunjungi kerabat keluarganya, baik yang berada di Jawa maupun di Sulawesi. Pertama kali SIS ALJUFRI mulai menginjakkan kaki di tanah Indonesia, umur 19 tahun ketika itu ayahandanya membawa serta beliau bersama-sama ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji setelah itu meneruskan perjalanan ke Indonesia dan kembali ke Taris setahun kemudian, pada bulan Zul Qaidah 1329 H. Kedatangan kedua kalinya ke Indonesia, SIS ALJUFRI memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di pulau jawa selama 7 (tujuh) tahun (1922-1929 M). Mula-mula tinggal di Batavia (Jakarta) sekarang sebutan ibu kota Negara Indonesia dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Jombang Jawa Timur pada 1926 M dan bertemu dengan Hadrah al-Syaikh K.H. Hasyim Asy‟ari, Ulama kharismatik dan tokoh pendiri NU. Pada akhir 1928 M, SIS ALJUFRI melanjutkan perjalanan ke Solo dan dipercayakan mengajar serta menjadi Direktur Madrasah al-Rabitah al-„Alawiyah cabang Solo, sekitar dua tahun. Selama dua tahun di Solo banyak perubahan telah dilakukan sehingga madrasah berkembang pesat. Namun takdir berlaku lain atas ke inginan mengunjugi kerabat keluarga di Sulawesi, maka SIS ALJUFRI akhirnya berhijrah ke Sulawesi Tengah. Peristiwa ini berlangsung dalam tahun 1929 M. Setelah beberapa bulan tinggal di Sulawesi dengan menjalankan kegiatan dan aktivitas dakwah kepada masyarakat, sang SIS ALJUFRI semakin dikenal dan dihormati. Tepat pada 14 Muharram 1349 H atau 11 Juni 1930, beliau mendirikan madrasah di Palu yang saat ini adalah kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Madrasah tersebut beliau namakan “Alkhairaat” sesuai dengan nama yang beliau berikan pada Taman Pengajian beliau di Taris dan diilhami dari beberapa ayat Suci al-Qur‟an. Riwayat perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ), semenjak awal didirikan Alkhairaat hingga wafatnya sang pendiri, tidaklah berlebihan bila mengatakan perjuangannya turut mempersiapkan bangsa Indonesia menuju kemerdekan dari penjajahan kala itu, maka dapat dikatakan perjuangannya terdiri dari empat periode dalam daur masa dan waktu sesuai situasi kondisi Indonesia di masa hidupnya yaitu: (1) Periode Penjajahan Belanda (Tahun 1930-1942 M); (2) Periode Pendudukan Jepang (Tahun 1942-1945 M); (3) Periode Kemerdekaan – Masa Orde Lama (Tahun 1945-1966 M), dan (4) Periode Kemerdekaan – Masa Orde Baru (Tahun 1966-1969 M).


1. Periode Penjajahan Belanda (Tahun 1930 M – 1942 M)

Periode ini, Alkhairaat didirikan dalam bentuk Madrasah pada tanggal 14 Muharram 1349 H atau 11 Juni 1930. Upacara peresmiannya dihadiri oleh wakil pemerintah Hindia Belanda bernama Proschot dan para Madika – Magau (Raja dan bangsawan suku kaili) serta tokoh-tokoh masyarakat (pribumi dan arab) pengelolaan lembaga ini ditangani langsung oleh SIS ALJUFRI, termasuk semua biaya penyelenggaraan administrasi dan berbagai kebutuhan santri (siswa-siswi) tidak dipungut bayaran, mereka belajar dan sekolah secara gratis. Santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ditampung dikediaman beliau sebagai anak asuh. Kegigihan beliau dan keihklasan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) dalam kesehariannya mendidik para santri baik secara formal maupun non formal mulai dari jam 06.00 s.d 07.30 wita, Qira‟ah (pengajian) di rumah kediaman beliau. Jam 07.30 s.d 13.00 wita di sekolah, selanjutnya dari jam 16.30 s.d 19.30 wita, Qira‟ah (Pengajian) di Masjid Arab (sekarang masjid An-Nur). Berselang tiga tahun lamanya berdiri, Sayyid Idrus bin Salim (SIS ALJUFRI ) menamatkan 2 (dua) orang santri, yakni; Muhammad Qasim Maraqau dan Sayyid Abdurrahman bin Syech Al-jufri. Kemudian tahun 1934 untuk kedua kalinya menamatkan 33 (tiga puluh tiga) orang santri.

SIS Aljufri menamakan murid-muridnya ini dengan istilah “ثاريخلا ةروكاب” (buah pertama Alkhairaat/generasi perintis) yang membantu beliau dalam mengembangkan Alkhairaat menjadi asatizah (Guru-guru) di berbagai Daerah dan membuka cabang-cabang pendidikan Alkhairaat antara lain: di Banggai pada tahun 1935, dipimpin oleh Al Ustadz Sa‟ad Basyir, di Luwuk pada tahun 1936, dipimpin oleh S. Abdurrahman Aljufrie dan Abdurrahman Lauk. Pada tahun 1937 cabang Alkhairaat dibuka di Poso, dipimpin oleh Al Ustadz H. Nur Hasan dan di Batui daerah Luwuk/Banggai, dipimpin oleh Al Ustadz Marzuki pada tahun yang sama pula dibuka cabang-cabang Alkhairaat seperti di Salakan, dipimpin oleh Abd. Haiy, di Liang, dipimpin oleh Al Ustadz Muh. Shaleh, di Toima, Ampana dan sebagainya. Pada tahun 1939 kemudian dibuka cabang Alkhairaat di Kintom, dipimpin oleh Al Ustadz Alwi Ince Ote dan beberapa asatidzah yakni Abdul Hamid dan H. Nawawian Abdullah. Pada tahun yang sama dibuka cabang Alkhairaat di Nambo, dipimpin oleh Al Ustadz Abdurrahman dan Sanusi Patimbang.

Pelajaran yang dapat diambil dari kegigihan perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) ketika cabang madrasah Alkhairaat telah didirikan di daerah-daerah. Beliau mengadakan kunjungan tidak hanya saat meresmikan madrasah Alkhairaat, namun menjadi agenda perjalanan rutin berkunjung ke berbagai daerah tersebut. Tujuannya adalah melakukan inspeksi (melihat langsung apa yang menjadi hambatan dan kemajuan setiap madrasah yang ada di setiap daerah), bahkan para asatidzah yang ditugaskan di berbagai daerah, ketika Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) mengunjungi madrasah tersebut, sambil memberikan gaji bagi asatidzah (guru-guru) yang bertugas mengajar. Kegigihan dan rasa syukur sang SIS ALJUFRI atas amal darma bakti, mengembangkan pendidikan Alkhairaat yang bertebaran di berbagai daerah, tercermin dalam tulisan gubahan syair beliau:


مخس و عشرون عاما عىن آنصرمت * قد قمت فيها حبمد هللا ابلعمل

تلك املدارس يف البلدان شــــــاهــدة * ابن فعلى وقوىل ليس ابهلـــــــزل

Terjemahan:
Dua puluh lima tahun aku telah lampaui untuk mengabdi, beramal dengan rasa syukur kepada Allah, Sekolah-sekolah bertebaran di penjuru negeri sebagai saksi nyata bahwa perbuatan dan ucapanku tidaklah sia-sia.

Semuanya didedikasikan demi meningkatkan kualitas mental intelektual anak bangsa untuk tumbuh setara dengan bangsa lain, lebih khususnya kolonial Belanda yang menjajah Indonesia kala itu, menyadari bahwa kebodohanlah yang menyebabkan bangsa ini ditindas oleh penjajah maka SIS ALJUFRI melakukan perlawanan terhadap penjajah lebih nyata dan menjadikan madrasah Alkhairaat sebagai basis perlawanan intelektual terhadap kolonial Belanda, perlawanan SIS ALJUFRI tercermin dari sumber referensi yang di ajarkan kepada santri (siswa-siswi), buku referensi tersebut berjudul “Idzatun-Nasyi‟in sebuah karya Asy-Syaikh Mushthafa Al-Ghalayain. Buku ini berisi materi-materi pemikiran reformasi dan membakar semangat juang cinta tanah air membela Negara atau bangsanya, membebaskan diri dari berbagai bentuk penindasan serta pemikiran nasionalisme untuk bangkit berjuang mencapai kemerdekaan murni menuju kejayaan dan hidup mulia.

Pada tahun 1939 oleh penjajah belanda bermaksud menyita gedung Alkhairaat yang bermarkas di Palu, setelah pecahnya pemberontakan Salumpaga di Toil-Toli, saat itu terdapat tuduhan beberapa murid Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI) terlibat dalam pemberontakan tersebut, ketidakpercayaan pejabat kolonial memuncak ketika menemukan laporan beberapa santri dan guru-guru Alkhairaat telah mengambil bagian dalam jabatan SI (Serikat Islam) yang berujung tertangkapnya MS.Patimbang dalam pertemuan penyamaran SI di Luwuk, Sulawesi Tengah. Kolonial Belanda menyebutnya “pertemuan bawah tanah” pada tahun 1919 di kampung Soho-Luwuk, selain menangkap MS Patimbang, Belanda juga melarang warga kampung menggunakan masjid sebagai pusat aktifitas “anti kolonial”.

Pada akhir pemerintahan kolonialisme Belanda, peristiwa perlawanan terhadap imperialisme Belanda oleh sekelompok santri Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) yang dipimpin oleh Ustad Abdul Samad (Kepala Madrasah Alkhairaat Cabang Dondo-Ampana) beserta lima orang sahabatnya, tertangkap oleh angkatan bersenjata Belanda, kemudian kelima muridnya dibuang di tengah lautan, antara Tojo – Poso saat meletusnya pemberontakan tersebut.

Menanggapi insiden tersebut, saat itu pemerintahan Belanda mencurigai gerak-gerik Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) sehingga mengutus seorang Inspektur Pengajaran Belanda dari Manado untuk mengadakan inspeksi di Madrasah (Perguruan Alkhairaat) dan menemukan roster (jadwal mata pelajaran) yang tercantum nama buku tersebut sebagai pegangan guru di sekolah (madrasah). Maka buku/kitab tersebut langsung dibeslaag (disita). Untung saja, seorang aristokrat tanah kaili bernama Pua Tjatjo Idjasah, sukses menggagalkan rencana Inspektur Belanda yang datang dari Manado. Cucu SIS ALJUFRI (Almarhum - S. Abdillah Aljufrie) menceritakan bahwa salah satu keberhasilan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) dalam mengemban tugas pendidikan dan dakwah karena mendapat dukungan dari Raja-Raja di Palu, bahkan dalam melaksanakan dakwahnya dan kegiatan lainnya di damping oleh para madika (raja). Raja-raja yang sering mendampingi dan membantu Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) antara lain: Raja Ijazah di Kamonji, Parampasi dan Janggola di Kampung Lere, Lamakarate di Biromaru, Lembah di Tawaili, H. Daeng Marocca dan Daeng Sute di Kampung Baru, Pettalolo di Donggala, Tombolotutu di Tinombo dan H Sunusi di Ujuna.

Tahun 1940, dalam sebuah misi dakwah beliau bersama murid-muridnya antara lain; Al Ustadz Rustam Arsyad dan M. Yunus Lanori mengunjungi Kalimantan Timur (Sekarang Kalimantan Utara) tepatnya daerah Bulungan (Tanjung Selor dan Tanjung Palas). Hasil dari agenda dakwah itu timbullah simpatik masyarakat setempat dan terbukalah cabang Madrasah Alkhairaat di Tanjung Selor (HPB) dan Tanjung Palas (Kedudukan Sulthan). Kedua cabang Madrasah ini dipimpin oleh Al Ustadz S. Saggaf bin Syekh Aljufrie.

2. Periode Penjajahan Jepang (Tahun 1942-1945)
Pada masa peralihan pemerintahan Belanda kemasa pendudukan Jepang (Dai Nippon) pada tanggal 07 Desember 1942, “Gunseikan” mengundang para Ulama seluruh Nusantara ke Istana Gambir di Jakarta. Dihadapan para Ulama Nusantara, “Gunseikan” Letnan Jenderal Okazaki berpidato, isi pidato “Gunseikan” sangat berkesan di hati para Ulama, namun Bala Tentara Dai Nippon yang memerintah dengan “Bayonet dan Osamu Seirei” itu bermaksud mengganti kiblat umat Islam, melalui doktrin “Sikeire”, sejumlah tokoh Ulama mulai menyangsikan keberadaan pemerintahan Jepang di persada Nusantara. Termasuk di lembah Palu, tak terkecuali Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) menyangsikan keberadaan pemerintahan Dai Nippon.

Berselang beberapa waktu kemudian Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) dituduh oleh penguasa Jepang menyimpan radio. Tuduhan yang tak beralasan itu, mengakibatkan Jaksa Ruata menjemput langsung menghadap Tuan Besar penguasa perwakilan pemerintah Jepang untuk memberikan keterangan. Ketika itu Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) sedang berada di Desa Wani memenuhi undangan perkawinan bersama santrinya bernama Zainal Abidin Betalembah. Setelah mendengar berita tersebut beliau menghadap untuk memberi keterangan. Pernyataan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ): “Dulu sebelum Tuan datang di sini saya memang punya radio dan saya sudah jual sama Cina Kiala yang ada hanya kasnya saja. Kalau Tuan suka boleh ambil”.

Tuduhan yang tidak adanya bukti tersebut, maka penguasa Jepang mengalihkan tindakannya untuk memaksa Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) meliburkan kegiatan pendidikan Alkhairaat, dengan alasan bahwa gedung Alkhairaat akan dijadikan gedung Nantako oleh tentara Jepang. Sesungguhnya alasan tersebut melarang aktifitas kegiatan pendidikan Alkhairaat untuk berkumpulnya para santri. Dengan keadaan terpaksa Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) memberikan instruksi sampai ke cabang-cabang madrasah bahwa madrasah Alkhairaat liburan Panjang  , sambil memberikan nasihat  “Bertakwalah kamu kepada Allah menurut kadar kekuatan yang ada padamu” (QS. At-Taghâbun [64] : 16).

Sejak kejadian itu, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) hijrah ke Boyaoge. Situasi yang mencekam pada masa itu tidak lantas membuat panik dan putus asa Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ), tetapi justru lebih antusias mendidik dan membina serta memberikan pelajaran kepada santrinya, proses belajar mengajar dilakukan di tempat kediaman beliau di Boyaoge secara sembunyi-sembunyi pada waktu pagi dan petang, “bukratan wa asyiyyah”.

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) selalu menanamkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air adalah bagian dari iman. Rupanya kegiatan ini tercium oleh mata-mata Jepang, sehingga pernah beliau kembali dipanggil dan diinterogasi oleh pemerintahan Jepang penguasa di Palu. Namun karena Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI) dapat memberikan jawaban yang tepat dan tidak ada indikasi yang dapat membuktikan bahwa beliau tetap melaksanakan kegiatan proses belajar-mengajar, dengan kuasa Tuhan yang Maha Esa, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) lolos dari tuduhan tersebut. Setelah tuduhan yang kedua kalinya ini, bukan berarti memupus kegiatan belajar-mengajar Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ), tetapi beliau menganjurkan santrinya agar datang sendiri-sendiri secara bergiliran, supaya tidak terlihat adanya aktifitas pembelajaran. Situasi proses belajar secara bergantian seperti ini berlangsung sampai penjajah Jepang kalah dan bangsa Indonesia merdeka.

3. Periode Kemerdekaan–Masa Orde Lama (Tahun 1945 M – 1966 M)
Hari itu Jum‟at, pagi dini hari 17 Agustus 1945 M bertepatan dengan tanggal 09 Ramadhan 1346 H Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mendengar berita kemerdekaan itu, maka Sayyid Idrus bin Salim Al-jufri (SIS ALJUFRI ) berdoa “Semoga Allah yang maha kuasa senantiasa memberkati kemenangan-kemenangan rakyat Indonesia yang sukses mempertahankan kemerdekan bangsa Indonesia.”  Berselang 4 (empat) bulan setelah peristiwa yang sangat bersejarah itu, Segera Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI) secara resmi mengaktifkan kembali madrasah-madrasah Alkhairaat melalui instruksi beliau, tepatnya pada hari senin tanggal 17 Desember 1945 M. Instruksi beliau mengenai dimulainya kembali proses belajar mengajar tersebut  diumumkan  keseluruh  cabang-cabang  Alkhairaat  dimanapun  berada. Kecintaan beliau terhadap tanah air Indonesia dan komitmen kebangsaan serta Nasionalisme, dapat disimak dalam penggalan gubahan syair goresan penanya ketika merespon Kemerdekaan Republik Indonesia, bergembira serta rasa syukur beliau saat detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945:






Terjemahan:

“Berkibarlah bendera kemulian diangkasa - Daratan dan gunung-gunungnya hijau”
“Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan  –  orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya”
“Tiap tahun hari itu menjadi peringatan – muncul rasa syukur dan puji-pujian padanya”
“Tiap bangsa memiliki symbol kemuliaan – dan symbol kemuliaan kami adalah merah dan putih”
“Wahai  Sukarno!  Engkau  telah  jadikan  hidup  kami  bahagia  – dengan obatmu telah hilang penyakit kami…”.

Sejak diproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pendidikan Alkhairaat mulai berkembang dengan pesat, tetapi belum begitu lama menghirup udara kemerdekaan, Indonesia mulai menghadapi kemelut yang bertubi-tubi, mulai dari agresi militer Belanda pertama (19 Desember 1947), menyusul agresi kedua (19 Desember 1948), sehingga lembah palu kembali dikuasai oleh tentara NICA (Nederlands Indische Civiel Administrasi). Di masa itu banyak tokoh-tokoh Alkhairaat dalam pergerakan melawan agresi militer Belanda. Ada yang terang-terangan ada pula bekerja di bawah tanah dalam gerakan “gerilya kilat”.

Pada masa Indonesia menghadapi hiruk pikuk bentuk Negara setelah terjadinya Konverensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (Nederland) pada Tanggal 23 Agustus 1949. Indonesia mencari jati diri bentuk Negara, apakah “Negara Serikat atau Negara Kesatuan”?. maka timbulah pemberontakan di sejumlah wilayah Indonesia.

Masa pemberontakan perjuangan rakyat semesta (Permesta) dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Sayyid Idrus bin Salim Al-jufri (SIS ALJUFRI ) pernah ditawari untuk membantu perjuangan mereka. Namun beliau menolak ajakan itu sambil mengatakan “Masyarakat di sini masih membutuhkan saya”. Pada saat itu pula, dua tokoh sentral Sulawesi Tengah yakni Djafar Lapasere dan Aksa Tombolotutu datang kepada Beliau meminta pendapat dan fatwa kemana mereka harus bergabung, Ke NKRI atau DI/TII?, dengan bijak dan tegas Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS ALJUFRI ) menyarankan “jika mau selamat, pertahankan NKRI”. Dua orang yang masing-masing mewakili generasinya (tua dan muda) ini akhirnya mendukung pemerintahan di Jakarta.(lihat nasionalisme,azra sayyid idrus)

Sementara dalam masa transisi, masyarakat di lembah Palu, tepatnya tanggal 6 Mei 1950, terjadi gerakan demonstrasi di hadapan pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) di Palu, sekaligus menyampaikan “Maklumat”. situasi tersebut mendorong Alkhairaat untuk ikut aktif, maka pada tanggal 15 Juni 1951, Alkhairaat mengadakan “Konfrensi” yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat, kepala distrik, Raja-Raja yang ada di Palu, Donggala dan sekitarnya. Kegiatan ini diketua oleh M.S Patimbang dan Sekretarisnya Kamaruddin Patimbang. Pokok isi berita acara dalam konfrensi tersebut antara lain disepakati:
1. Menyatakan kebulatan pendapat dan tindakan Alkhairaat sekaligus mendukung maklumat 6 Mei 1950 dan menentang setiap ancaman yang merongrong pemerintah Republik Indonesia yang berpusat di Jogya.
2. Membangun dan membina serta mengembangkan Alkhairaat sebagai satu wadah yang bergerak untuk kepentingan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Konfrensi ini di hadiri 100 (seratus) orang peserta, termasuk didalamnya Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) selaku Pimpinan Alkhairaat dan dilaksanakan di Gedung Alkhairaat yang pertama, hasil konfrensi disimpulkan “Sepakat untuk merapatkan barisan menentang setiap bentuk ancaman dan terus membangun Alkhairaat dan RI. Begitulah sikap Istiqamah dan Nasionalisme serta cintanya kepada ibu pertiwi. Setelah peristiwa ini pendidikan Islam Alkhairaat mulai berkembang dengan pesatnya, sampai pada tahun 1956 dilaksanakan Muktamar I Alkhairaat dan Jumlah Madrasah pada saat itu sebanyak 25 madrasah, tersebar di berbagai tempat, bukan hanya di Sulawesi Tengah, tetapi juga di Sulawesi Utara termasuk di Sanger Talaud, Gorontalo dan lain-lain. Pada  saat pemberontakan PERMESTA, Sayyid  Idrus bin Salim  Aljufri (SIS ALJUFRI ) menunjukkan nasionalismenya yang konsisten dan tidak berkompromi dengan yang menghianati konstitusi Negara. Dalam buku berjudul “Sayyid Idrus bin Salim Aljufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat”. Huzaimah T. Yanggo dkk, mengungkapkan bahwa:

“Sebelum Permesta menguasai Palu pada 1957, Gubernur Militer Permesta Kolonel Somba di Manado, menugaskan Residen Koordinator Militer Sulteng di Palu Yap Yanis Menemui SIS ALJUFRI ; maksud kedatangannya mengharapkan Perguruan Islam Alkhairaat mendukung perjuangan PERMESTA memisahkan diri dari Negera Kesatuan Republik Indonesia dengan imbalan Uang sebesar 300.000.- yang ketika itu sangat tinggi nilainya. Permintaan itu dengan tegas ditolak oleh SIS ALJUFRI dan akhirnya utusan itu kembali tanpa hasil. Sumber lain menyebutkan bahwa Yap Yanis berusaha melobi salah seorang murid SIS ALJUFRI agar dapat menerima sogokan tersebut, tetapi ditolak, sementara SIS ALJUFRI tidak mau bertemu dengan utusan Permesta tersebut. Dalam kasus ini kembali SIS ALJUFRI menunjukkan nasionalismenya yang konsisten dan tidak berkompromi dengan mereka yang mengkhianati konstitusi Negara.

“Pada tahun 1958 sebagian kekuatan militer pendukung Permesta di Palu meminta gedung sekolah Alkhairaat dipinjam untuk dijadikan markas militer. Menanggapi kehendak itu, spontan Guru menolaknya dengan alasan dipakai untuk kepentingan pendidikan. Akibat dari penolakan tersebut, beruntun tembakan mortir tentara Permesta ditujukan kearah Madrasah Alkhairaat, tetapi tidak satupun mengenai sasaran, bahkan diantaranya (12 buah) tidak meledak. Kasus ini menunjukkan keberanian dan kekeramatan luar biasa dari SIS Aljufri sebagai seorang pemimpin di dalam mempertahankan kelangsungan pendidikan untuk NKRI. Penolakan SIS ALJUFRI, baik untuk bergabung dengan Permesta maupun menfasilitasi mereka dengan meminjamkan gedung madrasah Alkhairaat, adalah langkah yang sangat kesatria dari seorang ulama terhadap pengkhianat NKRI. Seperti kita ketahui, berawal dari perjuangan dan kerja keras SIS ALJUFRI dalam aktivitas pendidikan dan dakwah itulah, berhasil membentuk dan memproduk insan yang berkualitas di Sulawesi Tengah dan Indonesia pada umumnya. Pada tahun 1960, pasca pemberontakan Permesta, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ), di Undang oleh Panglima Komando Daerah Militer XIII untuk Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah yang berpusat di Manado, Kolonel Sunandar  (alm),  mengadakan  perundingan  bertemu  langsung  dengan  Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ), di atas armada perang PR 508, di Pelabuhan Donggala, bertalian dengan pemantapan HAMKAMNAS (Pertahanan Keamanan  Nasional) terutama  di  Kawasan  Sulawesi  Tengah.  Pemerintah  RI melalui Panglima Komando Daerah Militer XIII, mengharapkan bantuan sepenuhnya dari Alkhairaat, pada saat itu Sayyid Idrus bin Salim Aljufri ( SIS ALJUFRI ) tanpa ragu-ragu menyepakati permintaan tersebut, dengan mengajukan syarat, agar anak-anaknya atau santri Alkhairaat yang di tahan di Manado, karena dituduh mendukung perjuangan PERMESTA supaya dibebaskan, atau dikembalikan kepada keluarganya. Santri-santrinya tersebut yakni: H. Dajafar Lapasere (alm), H. Aksa Tombolotutu  (alm),  dan  H.  Nandeng  (alm).  Akhirnya ketiga tokoh sentral Sulawesi Tengah yang dipaksa berdiri dibelakang Permesta itu dibebaskan tanpa syarat. Melalui peristiwa ini lagi-lagi dapat diambil pelajaran, bahwa sebagai sosok pendidik, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) dalam berkompromi pada ajakan yang positif dan konstruktif, cendrung bersepakat dan selaku orang tua yang mendidik santrinya, SIS ALJUFRI memiliki kasih sayang dan empati yang tinggi pada para santrinya yang terzalimi.

Pada tahun 1962, oleh panitia Musyawarah Alim Ulama Sesulawesi Utara dan Tengah, atas restu Gubernur F.J Tumbelaka dan Panglima Kodam XIII merdeka Kol. Sunandar, mengangkat Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) selaku penasehat ahli mewakili rombongan Alim Ulama wilayah Sulteng. Seperti biasanya dalam perjalanan beliau, setelah selesai mengikuti musyawarah Alim Ulama, beliau bersama beberapa santrinya menyempatkan berkunjung ke Sanger Talaud untuk berdakwah dan membuka madrasah Alkhairaat, kemudian berangkat ke Luwuk Banggai, Bungku, Ampana, dan Poso untuk melihat madrasah yang didirikan beliau dan kemudian kembali ke Palu.

Pada tahun 1963, seperti biasanya Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI) bersama santri-santrinya melakukan perjalanan Dakwah mengunjungi madrasah-madrasah, dan tujuan perjalanan tersebut antara lain: ke pulau Ternate, Bacan, Jailolo, Tobelo, Morotai, Patani, Weda, Maffa, Gane Dalam, Makean, Kayoa dan lain sebagainya. Memenuhi undangan tokoh-tokoh masyarakat dan Pemerintah Daerah Maluku Utara, pada tanggal 21 September 1964 didirikanlah Alkhairaat di Ternate.

Perguruan Tinggi Universitas Islam Alkhairaat (kutip web unisa) yang dirikan pada tahun 1964 dengan tiga Fakultas, yaitu Fakultas Adab, Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah. Perguruan Tinggi (Universitas Alkhairaat) yang beliau dirikan pada tahun 1964 dengan tiga Fakultas, yaitu Fakultas Adab, Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah.

Tanggal 22 Desember 1969 M, SIS Aljufri wafat, dimakamkan di kota Palu. Sejak 11 Juni 1930 sampai 22 Desember 1969 jumlah madrasah Alkhairaat yang telah diwariskan sebanyak 426 madrasah Alkhairaat, tersebar di seluruh Indonesia. Merupakan jasa beliau dalam Dunia pendidikan dalam kurun waktu 42 tahun semasa hidupnya.

Kiprah perjuangan SIS ALJUFRI mendirikan Alkhairaat di bidang Pendidikan, Dakwah dan Sosial kemasyarakatan, tidak dapat dipungkiri dari segi politik kebangsaan Indonesia, Ungkapan-ungkapan bait syair-syairnya mewakili cita-citanya membebaskan bangsa ini merdeka dari penjajahan, termasuk didalamnya mendidik putra-putri bangsa Indonesia untuk memberdayakan dan membebaskan rakyat Indonesia dari kemiskinan dan kebodohan. Bukankah tahun 1930 Indonesia belum resmi berdiri sebagai negara yang berdaulat dan pada saat yang sama SIS ALJUFRI tidak pernah sedikitpun tergoda atau melibatkan diri dalam tindakan politik praktis setelah Indonesia Merdeka, justru menempatkan Alkhairaat sebagai “Civil Society” yang sangat kritis dalam mengontrol jalannya pemerintahan.

Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ), sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan dari Pemerintah atas jasa-jasanya dan warisan yang ditinggalkan untuk Bangsa dan Negara Indonesia, yang berjuang dan ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana yang termuat dalam kutipan UUD 1945 paragraf 4 (empat) yang termaktub:

“…dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial ….

Pemerintah Indonesia melalui Presiden Susilo Bambang Yudoyono, memberikan piagam tanda kehormatan atas jasa-jasa Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (SIS ALJUFRI ) dengan menganugrahkan Bintang Maha Putra Adipradana, melalui KEPPRES RI. No. 53/TK/Tahun 2010, ditetapkan di Jakarta, 8 November 2010. Sebagaimana piagam dibawah ini: